Kata Rasulullah, “Haji yang mabrur tiada balasan baginya kecuali surga“. Haji Mabrur adalah impian setiap muslim. Mabrur menurut Imam An-Nawawi adalah Haji yang diterima, haji yang dilakukan dengan sempurna dengan tidak disertai dosa. Hasan Al-Bashri menambahkan, Haji Mabrur itu, “Setelah kepulanganmu dari naik haji, engkau semakin shaleh, lebih semangat dalam beramal, selalu berpikir untuk memberi manfaat, serta tidak lagi rakus akan kemewahan dunia.

Sudah banyak jumlah orang yang berhaji setiap tahunnya kuota haji selalu penuh, tapi negeri ini tak kunjung berubah. Berita seputar korupsi, pencurian, mutilasi, serta aneka kejahatan masih mendominasi media massa setiap hari. Mungkin karena nilai kemabruran tadi belum semuanya mengejawantah dalam kehidupan. Nah, sekarang mari kita menyimak kisah tentang makna kemabruran. Read the rest of this entry »

Ini adalah sebuah nasehat penting bagi siapa yang diberi karunia ilmu dari Allah. Tidak semua yang Anda tahu harus diucapkan. Sebab, setiap perkataan itu memiliki saat dan keadaan yang tepat untuk diucapkan. Mengetahui saja tidaklah cukup. Agar pengetahuan itu jatuh di tempat yang tepat, kita membutuhkan pemahaman. Yang terakhir, disebut para ulama dengan istilah fiqh.

Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki Allah mendapatkan puncak segala kebaikan, maka Allah akan memahamkannya terhadap dien-Nya“.

Anda mungkin pernah mendengarkan nama seorang tabi’in besar bernama Waki’ bin Al-Jarrah. Dia adalah guru dari Imam Asy-Syafi’i. Ketika Imam Asy-Syafi’i mengalami kesulitan menghafal, ia mengadu pada sang guru. Nasehat sang guru ini diabadikan dalam sya’ir yang sangat terkenal:

Kumengadukan pada Waki’ akan hafalanku yang buruk
Lalu ia menasehatiku agar tinggalkan maksiat
Karena ilmu adalah cahaya Allah
Dan cahaya itu takkan dikaruniakan pada pelaku maksiat

Sebab tak ada yang ma’shum selain Rasullah, Waki’ bin Al-Jarrah ini pernah mengalami kejadian yang sangat menakutkan akibat tergelincir dalam sebuah masalah. Read the rest of this entry »

Di dalam Al-Qur’an, ada surat Al-Mujadalah. Para ulama berbeda pandangan dalam membaca nama surah ini. Sebagian membaca dengan “Al-Mujadalah” yang berarti perdebatan yang terjadi antara Rasulullah dengan seorang wanita yang mengeluhkan perkara suaminya. Sebagian di antara mereka ada yang membaca dengan “Al-Mujadilah” yang berarti seorang wanita yang mendebat Rasulullah tentang perkara suaminya.

Imam Ibnu Katsir mengisahkan sebab turunnya ayat pertama surah ini. Di Madinah, hiduplah seorang wanita tua yang bernama Khaulah binti Tsa’labah, suaminya bernama Aus bin Shamit.

Di masa mudanya, dia adalah wanita yang berparas cantik dan bentuk tubuh yang indah. Karena suatu perkara, suaminya menziharnya. Zihar adalah bentuk thalaq pada masa jahiliyah. Suaminya berkata, “Saya menduga bahwa engkau sekarang telah haram atasku“. “Demi Allah, ini bukanlah bentuk thalaq yang sebenarnya,” jawab Khaulah menampik. Read the rest of this entry »

Apakah anda mengenal seorang ulama salaf yang bernama Said bin Al-Musayyib? Said adalah menantu Abu Hurairah, sahabat Rasulullah yang banyak meriwayatkan hadits Rasulullah.

Said adalah seorang ulama yang zuhud dan ahli ibadah. Ia sendiri pernah mengatakan, “Demi Allah, selama empat puluh tahun, aku tidak pernah ketinggalan shalat berjama’ah di masjid, dan selama tahun itu pula aku tidak pernah melihat punggung orang-orang yang berjama’ah di masjid karena selalu berada di shaf terdepan.

Cara pandang ulama dalam berbagai hal dalam kehidupan ini seringkali berbeda dengan orang awam. Pandangan mereka banyak dilatarbelakangi nilai-nilai ketakwaan pada Allah. Termasuk cara pandang mereka tentang pernikahan. Read the rest of this entry »

Suatu ketika, seseorang laki-laki berangkat mengunjungi saudaranya di sebuah perkampungan yang jaraknya cukup jauh dari kampung halamannya. Perjalanan itu harus melewati barisan bukit yang terjal. Tanpa sepengetahuannya, Allah mengirimkan kepada laki-laki itu seorang malaikat yang menjelma menjadi manusia untuk menemaninya dalam perjalanannya.

Ketika hampir sampai di pintu gerbang perkampungan yang dituju, malaikat utusan Allah bertanya, “Wahai saudaraku, engkau hendak kemana?“, “Aku hendak mengunjungi saudaraku di perkampungan ini,” jawab laki-laki itu. “Adakah hutang budinya, sehingga engkau jauh-jauh datang mengunjunginya?” tanya utusan itu lagi. “Tidak, bukan karena hutang budi, bukan juga karena sesuatu, tapi saya hanya mencintainya karena Allah, itu saja,” jawabnya.

Maka lelaki itu kemudian membuka jati dirinya, “Sesungguhnya aku adalah utusan dari Allah yang Maha Rahman, untuk mengatakan kepadamu, bahwa Allah telah mencintaimu, karena cintamu kepadanya,” ujar Sang Malaikat.

Ini adalah cerita Aisyah yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari, suatu waktu, Rasulullah memerintahkan kepada salah seorang sahabatnya untuk memimpin sebuah pasukan ke sebuah daerah yang jauh dari Madinah.

Pada waktu shalat subuh, sahabat ini menjadi imam bagi para sahabat yang ikut bersamanya. Tidak seperti lazimnya shalat berjamaah, setelah Al-Fatihah, sahabat ini membaca surat Al-Ikhlas (Qulhuwallahu ahad), di dua rakaat berturut-turut.

Para sahabat yang menjadi makmum saat itu menganggap kejadian ini sebagai hal yang aneh. Dan sekembalinya ke Madinah, mereka pun menanyakannya kepada Rasulullah. “Tanyakan kenapa dia melakukan itu.” tanya Rasulullah mengembalikan pertanyaan. Lalu, para sahabat kembali kepada laki-laki itu. “Aku mengulangi surat Al-Ikhlas dalam setiap rakaat karena aku sungguh mencintainya, surat Al-Ikhlas menyebutkan sifat-sifat Allah Yang Maha Rahman,” jawab laki-laki itu.

Setelah mendengar hal itu, Rasulullah mengatakan, “Sampaikan kepada si fulan, sebab dia mencintai surat itu, maka Allah pun mencintainya.

Anas bin Malik bercerita, saat sedang duduk bersama sahabat, Rasulullah berkata, “Sebentar lagi, salah satu ahli surga akan muncul di hadapan kalian.” Tak lama, seorang laki-laki dari kaum Anshar muncul dengan sisa air wudhu masih menetes dari janggutnya. Ia menenteng terompah di tangan kirinya.

Hari berikutnya, Rasulullah mengulang perkataannya dan orang itu kembali melintas seperti pada kali pertama. Di hari ketiga, Rasulullah mengulang perkataannya, dan kejadian itu kembali terulang.

Mendengar ucapan Rasulullah, Abdullah bin Amr mengikuti lelaki yang dimaksud Rasulullah lalu berkata kepadanya, “Aku bertengkar dengan ayahku, aku tidak akan menemuinya tiga hari, apakah engkau berkenan memberiku tempat menginap?” lelaki itu menjawab, “Silahkan, dengan senang hati.Read the rest of this entry »

Anda pasti tak akan pernah jauh dari cinta. Di manapun berada, anda pasti berdekatan dengan cinta. Saat di kantor, bisa jadi Anda suka pada seseorang. Seiring dengan waktu, rasa suka itu menjadi cinta. Dan orang yang Anda cintai pun menjadi penyemangat baru dalam hidup Anda. Siapa pun dia, kalau cinta itu sudah menemukan ruangnya, segalanya akan menjadi indah. Itulah cinta Na’ilah.

Nama Na’ilah mungkin tidak terlalu akrab bagi Anda. Tapi, jika disebut nama Utsman bin Affan mungkin Anda mengenalnya. Ya, dia adalah khalifah ketiga, yang malaikat pun malu kepadanya. Na’ilah itulah istrinya yang terakhir. Nama lengkapnya Na’ilah binti Farafishah. Ia berasal dari kaum keturunan Isa bin Maryam Alaihissalam. Read the rest of this entry »

Abdurrahman bin Al-Jauzi menceritakan dalam “Shaed Al-Khathir” kisah berikut ini.

Abu Utsman Al-Naisaburi pernah ditanya, “Amal apakah yang pernah anda lakukan dan paling anda harapkan pahalanya?”.

Sejak berusia belia, anggota keluargaku selalu membujuk untuk mengawinkanku. Tapi, aku selalu menolak. Lalu, suatu ketika, datanglah seorang wanita padaku, dan berkata “Wahai Abu Utsman, sungguh hati ini tidak bisa berdusta, aku benar-benar mencintaimu. Aku memohon atas nama Allah agar sudilah kiranya engkau mengawiniku”.

Maka, aku pun menemui orang tuanya di rumah mereka yang sangat sederhana. Keluarga mereka ternyata miskin. Tapi, walau demikian, aku tetap berani melamarnya. Ya, melamarnya, mengambil keputusan besar dalam hidupku. Read the rest of this entry »

Hanya karena engkau memiliki pesona, maka engkau bisa mencintai dan mengawini semua perempuan. Untuk membangun hubungan jangka panjang, pesona fisik, jiwa, akal, dan ruh harus terpadu untuk menciptakan daya tarik dan daya rekat yang permanen.

Tapi, serupa berlian, tidak semua orang mengenalnya dengan baik. Makanya banyak yang tak menghargainya. Sedang sebagian lainnya menganggapnya terlalu jauh untuk dijangkau, bagai pungguk merindukan bulan.

Pengandaian seperti itulah yang membuat Aisyah kali ini dilanda gundah. Pasalnya, Umar bin Khattab, hendak melamar adiknya, Ummu Kultsum. Dan tidak ada alas an untuk menolak lamaran Umar, kecuali bahwa Abu Bakar sang ayah yang juga khalifah pertama telah mendidik putri-putrinya dengan penuh kasih saying dan kemanjaan. Kemaren itu, Aisyah merasa adiknya tidak mampu menyesuaikan diri dengan pembawaan Umar yang kuat dan kasar. Pun ketika Abu bakar meminta pendapat Abdurahman bin Auf tentang kemungkinan penunjukan Umar sebagai khalifah, beliau menjawab, ”Dia  yang paling layak kecuali bahwa dia kasar.Read the rest of this entry »